|
Jarum jam masih menunjukkan pukul 10.00 WIB. Sejumlah dan wanita yang mengenakan busana muslim mulai mendatangi Masjid Namira (Al Manthiq) Jl Tebet Barat Dalam V, Tebet, Jakarta Selatan. Mereka adalah jamaah pengajian Majelis Taklim Al-Manthiq yang secara khusus melakukan pembinaan kepada para mualaf, mereka yang telah hijrah ke agama Islam. Dr H Bambang Sukamto, ketua yayasan, dan sejumlah pengurus penuh hangat menyambut setiap jamaah yang datang.
Menurut Sukamto, Al-Manthiq berdiri dari sebuah keprihatinan terhadap perjalanan hidup para mualaf. ''Mualaf itu mengalami berbagai macam masalah akibat masuk Islam di antaranya dikucilkan dari keluarga, kena embargo ekonomi, kehilangan pekerjaan, putus sekolah. Kalau mereka sudah masuk Islam sebenarnya siapa yang wajib mengayomi? Ya kita-kita ini sesama orang Islam yang katanya saudara,'' ungkap pria yang menyatakan keislamannya tahun 1971 ini. 'c2~ Ia paham keluhan banyak saudara barunya itu. ''Sering kali dianggapnya kalau sudah mengucapkan syahadat selesai. Padahal masalah buat mereka tak cukup sampai di situ. Masalah justru timbul setelah mereka berikrar Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.'' 'c2~ Al-Manthiq sendiri, sambung Sukamto, sebenarnya berawal dari sebuah pengajian keluarga di rumah Sugiri, mantan duta besar di Inggris dan mantan sekmil kepresidenan, serta pernah menjadi dirjen perhubungan udara. Sebagai mualaf saat itu, ia bergabung ke dalam pengajian tersebut. Mualaf yang lain mengikuti jejaknya. 'c2~ Di forum pengajian itulah, ia mengungkapkan masalah-masalah para mualaf. Keluhan mereka mendapat respons positif dari anggota pengajian lain. Mereka lalu sepakat mendirikan yayasan. Respons positif dari mereka dan tak lama setelah itu sepakat membentuk sebuah yayasan Al-Manthiq.'' 'c2~ Mengapa memilih nama Al Manthiq? Menurut pria yang hingga kini masih aktif berpraktik sebagai dokter itu, Al Manthiq artinya logika. ''Jadi, orang masuk Islam itu karena logika bukan karena ikut-ikutan, bukan karena keturunan.''Awal tahun 1994 ketika pengajian baru digelar, jamaahnya masih belasan orang. Sekarang, jumlah anggotanya ribuan, dan tersebar di wilayah Jakarta, berbagai kota di Pulau Jawa, Nusa Tenggara Timur, mbon, dan Papua. 'c2~ Ia menyebutkan, sebagian besar anggotanya berasal dari kalangan intelektual mulai dari mahasiswa, sarjana, akademisi, hingga profesional di berbagai bidang. Dokter yang aktif pada Lembaga Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) milik Dompet Dhuafa Republika ini menjelaskan pembinaan menitikberatkan pada masalah akidah. ''Agar akidah mereka kokoh, tidak gampang goyah,'' ujarnya. 'c2~ Untuk hal ini, ia menjalin kerja sama dengan Dewan Dakwah Islamiyah. Kebetulan, banyak pengurus lembaga itu yang menjadi pasiennya. Semula, ia mengaku kurang 'pe-de' (percaya diri) mengelola yayasan ini. ''Background saya bukan pesantren. Ada salah seorang pengurus DDI yang bilang kepada saya, 'Mas Sukamto, Umar Bin Khattab juga seorang mualaf, dulu beliau kafir. Masak baru disuruh memegang ini saja sudah tidak mau','' ujarnya mengenang. Akhirnya ia menerima amanah itu dan resmi masuk DDI tahun 1992. Kegiatan Al Manthiq yang utama ini pengajian bulanan setiap hari Ahad minggu ketiga. Kalau bulan Ramadhan, mereka mengadakan shalat tarawih berjamaah. Sedang pembinaan secara perorangan dilakukan bagi mereka yang ingin mendalami Alquran. Bagi mereka disediakan kelas khusus dengan guru mengaji. Ada pelajaran metode Alquran secara cepat. 'c2~ Yayasan ini juga memberi perlindungan bagi mualaf yang teraniaya setelah berpindah agama. Bagi mualaf muda usia sekolah yang kurang mampu juga diupayakan pemberian beasiswa. Wati, seorang mualaf yang diusir keluarganya, misalnya, mengikuti kursus komputer dan manajemen atas beasiswa seorang donatur yang dicarikan yayasan. Ia yang beberapa kali ditolak kerja karena tidak mau melepaskan jilbabnya. ''Ia sempat bekerja di tempat yang kondusif untuk agamanya, tapi kini berhenti setelah berkeluarga,'' tambahnya. 'c2~ Yayasan Al-Manthiq juga mengelola penyaluran dana zakat anggotanya. Dana itu digunakan untuk memberdayakan mualaf di daerah yang hidupnya secara ekonomi kurang beruntung. Beberapa mualaf di Ambon dan Nusa Tenggara Timur, misalnya, kini menjadi peternak sapi dan kambing atas bantuan dana bergulir dari yayasan. Ia berharap para anggota Al-Manthiq terus menjadi 'calo' amal. ''Berbuat bukan karena riya' tapi betul-betul lillahi ta'ala untuk beramal,'' ujarnya. Harapan Sukamto agaknya betul-betul dilakukan anggota pengajian. Buktinya, makin banyak saja mualaf baru yang menjadi anggota pengajiannya.
|