Islam is not the Enemy - Islamphobia
Tuesday, 02 June 2009 20:27
Dalam survei yang dilakukan di 14 negara anggita UE, FRA menyatakan bahwa sepertiga responden ternyata merupakan korban diskriminasi yang terjadi pada beberapa tahun lalu. Selain itu, sebanyak 11 persen responden juga pernah menjadi korban tindak kejahatan yang bermotif rasial.''Kami juga menemukan kenyataan bahwa sebagian besar insiden itu tak dilaporkan kepada polisi. Sebab, mayoritas Muslim itu yakin tak akan ada yang dilakukan polisi atas laporan mereka itu,'' demikian keterangan FRA. Menurut FRA, tingkat tertinggi diskriminasi terjadi di tempat kerja, bahkan sudah masuk kategori mengkhawatirkan.
Padahal, kata Direktur FRA, Morten Kjaerum, lapangan pekerjaan merupakan bagian penting dari proses integrasi bagi Muslim dengan masyarakat secara luas di mana mereka tinggal. ''Ini merupakan inti kontribusi yang bisa diberikan para migran Muslim kepada masyarakat. Diskriminasi membuat proses integrasi terganggu,'' katanya.
Kjaerum menambahkan, berdasarkan survei FRA seorang Muslim yang berusia 16 hingga 24 tahun lebih banyak mengalami diskriminasi dibandingkan dengan Muslim yang usianya di luar rentang usia tersebut. Namun, hanya ada perbedaan tipis pada tingkat diskriminasi yang terjadi pada Muslim laki-laki dan perempuan.
Menurut Kjaerum, terungkap pula bahwa 79 persen responden menyatakan tak melaporkan diskriminasi dan kejahatan rasis yang mereka alami kepada pihak berwenang. Pemerintah negara-negara Eropa, mestinya mengalokasikan lebih banyak sumber daya untuk memperkuat mekanisme yang memungkinkan Muslim melaporkan insiden rasis semacam itu.
''Otoritas publik memiliki tanggung jawab untuk mendukung proses integrasi Muslim dengan masyarakat secara luas. Ini termasuk membuat mereka lebih peduli pada hak mereka. Semua korban rasisme harusnya memiliki akses terhadap hukum, bukan hanya pada tataran teori tetapi juga dalam praktik,'' kata Kjaerum menegaskan.
Pemerintah negara-negara Eropa, tambah Kjaerum, mestinya juga meningkatkan kesadaran di antara komunitas Muslim akan hak yang mereka miliki dan bagaimana cara melaporkan kejahatan rasis yang mereka alami. Ia menyatakan ini merupakan survei pertama UE terkait pengalaman para imigran dan etnik minoritas.
Berdasarkan survei tersebut, ujar Kjaerum, diskriminasi terhadap Muslim juga terjadi pada kelompok minoritas yang ada di Eropa. Banyak diskriminasi yang terjadi pada kelompok minoritas. Dan diskriminasi terhadap Muslim di Eropa, ungkapnya, bisa dikatakan sangat menyebar luas.-fer/taq
| < Prev | Next > |
|---|





"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja