Muslim Uighur tak Lelah Berharap
Islam is not the Enemy -
Islamphobia
Tuesday, 17 May 2005 06:00
Tidak enak memang, menjadi warga negara kelas dua. Perlakuan kurang adil kerap diterima. Seperti misalnya yang dirasakan oleh Abdullah Ahmed, seorang pebisnis dari etnis Uighur di Cina.
Satu dekade lalu, Ahmed memutuskan untuk pergi merantau. Tujuannya kala itu adalah Uni Emirat Arab (UEA), salah satu negara kaya minyak di Timur Tengah. Di sana dia membuka usaha dan berhasil mencapai sukses beberapa tahun kemudian.
Waktu terus bergulir, dan tanpa terasa sudah lebih dari 10 tahun berlalu. Dia pun merasa rindu pulang ke Cina dan kampung halaman. Maka Ahmed menetapkan hati untuk mudik belum lama ini.
Akan tetapi sungguh di luar perkiraannya, sesudah turun dari pesawat, perlakuan tidak menyenangkan diterima. "Pihak hotel tidak bersedia menerima saya sebagai tamu," keluhnya.
Padahal sebelumnya, saat dia menelepon untuk memesan tempat, pihak hotel memastikan ada kamar untuknya. Namun begitu Ahmed datang, si penerima tamu langsung berkata hotel itu sudah penuh.
Tak usah melihat paspor. Penampilan dan identitas nama Ahmed sudah menunjukkan bahwa dia adalah orang Uighur, etnis yang berasal dari keturunan bangsa Turki mayoritas beragama Islam dan tinggal di wilayah Xinjiang. Dan karenanya, tak ada satupun hotel yang mau menampungnya, barang semalam pun!

Malam itu tak ada pilihan buat Ahmed; pulang ke kota kelahirannya, Kashgar. Setelah menempuh penerbangan dari Beijing ke Bishkek, Kyrgystan, maka dilanjutkan dengan perjalanan darat melintasi wilayah pegunungan Xinjiang. "Terkadang, hal yang paling aneh adalah kita menjadi orang asing di negara sendiri," ujarnya. Ada kegetiran dalam ucapannya.
'c2~
Sejak Tragedi 11 September, etnis minoritas Uighur di Cina makin menjadi 'anjing kudisan' di negerinya sendiri. Pemerintah Cina berusaha mencari dukungan internasional bagi kampanyenya untuk memerangi 'kaum separatis' Uighur di Xinjiang - dengan menuduh mereka punya kaitan dengan jaringan terorisme internasional.
'c2~
Retorika yang bernada anti-separatis dari Beijing kian meningkat intensitasnya dalam beberapa pekan belakangan. Bahkan, juru bicara kementerian luar negeri, Zhu Bangzhao pernah mengklaim bahwa terdapat bukti keterkaitan etnis Uighur dengan jaringan Usamah bin Laden.
'c2~
Hampir tiap hari, penyisiran di lakukan di wilayah itu. Dua orang warga Xinjiang telah dijatuhi hukuman mati dan banyak lagi yang dipenjara dengan tudingan terlibat jaringan terorisme. ."Mereka (para pemimpin) ingin mengambil keuntungan dari situasi ini dan melakukan pembersihan," tukas Dru Gladney, ahli masalah Asia Tengah pada Asia-Pacific Center for Security Studies yang berkedudukan di Hawaii.
'c2~
Turdi Ghoja, ketua Asosiasi Uighur-Amerika yang berpusat di Washington, juga melontarkan pendapat serupa. "Pemerintah ingin mengambil manfaat dari momentum perang global melawan terorisme dengan melegitimasikan pembunuhan, penyiksaan dan pemenjaraan warga Uighur."
'c2~
Beberapa kalangan mengatakan, pemerintah hingga kini masih tetap bersikap melebih-lebihkan dari substansi sebenarnya. "Segalanya akan selalu menjadi buruk bagi kaum Uighur di Cina," ungkap seorang diplomat Barat.
'c2~
Bagi Turdi, perbagai laporan terkini menyangkut represi terhadap Muslim Uighur pada dasarnya tidak ada yang baru. "Mereka selalu memperlakukan kaum Uighur sebagai musuh."
'c2~
Padahal, kekhawatiran pemerintah Cina terhadap kemungkinan bergabungnya Muslim Uighur dengan umat Muslim dari negara lain -- Taliban atau lainnya -- tak juga terbukti. Begitu pula menyangkut bangkitnya Pan-Turki mulai dari Afganistan hingga ke Asia Tengah, hanya merupakan desas-desus di warung kopi.
'c2~
Kenyataannya, seperti juga ketika Kabul jatuh beberapa hari menjelang Ramadhan, kehidupan terus berlanjut di sana. Mengutip komentar Ahmed saat keluar dari lobi hotel yang menolaknya, "Dunia berputar dengan caranya sendiri, tetapi Kashgar tidak pernah berubah."
'c2~
Bagi Muslim Uighur, yang diharapkannya hanya satu, hidup tenteram seperti warga negara lainnya. "Kami selalu berdoa untuk perdamaian," kata seorang pria tua, sesaat sebelum melangkahkan kakinya ke masjid terdekat.