Muslim Xinjiang dan Sejarah Ratusan Tahun
Islam is not the Enemy -
Islamphobia
Tuesday, 17 May 2005 06:05
Tahun 650 menandai kelahiran agama Islam di daratan Cina. Saat itu, seperti tertulis dalam sebuah catatan kuno dari Dinasti Tang, diketahui adanya kunjungan agung dari Saad ibn Abi Waqqas RA --salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW -- ke negara tersebut. Saad membawa pesan dari Rasulullah untuk memperkenalkan Islam kepada rakyat negeri itu. Dia pun lantas memaparkan inti ajaran Islam di kerajaan yang disaksikan langsung oleh kaisar Cina.
Dari sejak itu, Islam berkembang di Cina. Hubungan antara Cina dan negara-negara Islam di Timur Tengah maju pesat terutama di bidang perdagangan. Banyak pedagang Muslim datang ke Cina.
Umat Muslim secara perlahan tapi pasti mulai mendominasi bidang ekspor dan impor selama masa Dinasti Sung (960 - 1279). Masa pemerintahan Dinasti Ming (1368 - 1644), merupakan masa kejayaan Islam di Cina.
'c2~
Namun Islam mulai mengalami masa suram pada saat Dinasti Ching memerintah tahun 1644 - 1911. Sentimen anti-Islam merebak. Dari sejak itu, Muslim terus mengalami penderitaan dan dianggap sebagai warga negara kelas dua.
'c2~
Ketika keruntuhan Dinasti Manchu tahun 1911, Sun Yat Sen tampil sebagai pemimpin baru Republik Rakyat Cina. Dia memproklamirkan persamaan hak dan kewajiban di antara etnis Han, Hui (Muslim), Man (Manchu), Meng (Mongol), and the Tsang (Tibet). Kebijakan yang pada akhirnya menghadirkan hubungan lebih baik di antara kelompok etnis tersebut.
'c2~

Namun penderitaan umat Muslim terulang kembali setelah terjadi revolusi pimpinan Mao Zedong dan masa pemerintahan komunis di Cina. Mereka harus berjuang melawan pengaruh komunis. Tahun 1953, meletus perlawanan Muslim yang menginginkan pembentukan negara Islam sendiri. Hal ini dilawan secara represif oleh militer Cina. Disusul kemudian dengan kegiatan propaganda anti-Muslim di seluruh wilayah negeri.
'c2~
Jumlah Muslim di Cina kini diperkirakan sekitar 20 juta jiwa. Mereka terdiri dari beragam etnik. Yang terbesar adalah etnis Hui Cina dengan hampir separo jumlah populasi Muslim Cina. Mereka tinggal di provinsi Ningsha di utara. Etnis lain adalah Uighur (keturunan Turki) yang mendiami wilayah provinsi Kansu dan Xinjiang. Etnis Uygur ini terdiri dari komunitas Uighur, Uzbek, Kazakh, Kirgiz, Tatar, dan Dongshiang.
'c2~
Etnis Uighur mendominasi populasi di Xinjiang atau sebanyak 60 persen. Akan tetapi, angka ini kian lama kian tidak berarti seiring kedatangan orang-orang non-Muslim Cina ke provinsi itu. Situasi tersebut menimbulkan masalah asimilasi dan meningkatkan keprihatinan terhadap gerakan de-Islamisasi di provinsi itu.
'c2~
Arus migrasi ini menuai masalah di wilayah provinsi Muslim tersebut lantaran jumlahnya telah mencapai angka rata-rata 200 ribu orang/tahun. Di banyak tempat di mana sebelumnya Islam mendominasi, sekarang justru menjadi minoritas.
'c2~
Sepanjang pemerintahan rezim Mao Zedong dan Revolusi Budayanya, umat Muslim kerap hidup di bawah tekanan. Dan saat teror dari kaum komunis berlangsung, sekaligus pula muncul upaya untuk menghilangkan jejak-jejak peradaban Islam dan identitas etnis Muslim di Cina.
'c2~
Bahasa Uighur, contohnya, yang selama berabad-abad menggunakan tulisan Arab, dipaksa untuk mengadopsi tulisan alfabet latin. Etnis Uygur dan kaum Muslim lainnya menjadi obyek utama pekerja paksa di sejumlah provinsi yang jumlahnya sekitar 30 ribu jiwa.
'c2~
Pemerintah juga telah menutup paksa sebanyak 29 ribu masjid di sana. Di bawah tekanan pula, di bidang pendidikan sejumlah sekolah Islam ditutup dan murid-muridnya dipindahkan ke sekolah yang hanya mengajarkan ajaran Mao dan Marxis. Belum lagi sekitar 360 ribu Muslim yang ditangkap.