Kisah Mualaf - Kisah Foreigner
Thursday, 25 June 2009 21:34
Alfaro adalah mualaf pertama yang menjadi pemimpin jemaah Muslim di masjid Spanyol. Dia juga telah menjadi anggota Dewan Direksi dari CCIV sejak tahun 2005.
Tokoh masyarakat Muslim di Valencia mengatakan Alfaro diangkat imam berdasarkan kualifikasi.
"Dia dipilih karena dia banyak pengetahuan agama," kata El-Taher Edda, sekjen Dewan Islam untuk Dialog dan Kebersamaan, kepada IslamOnline.net.
Saat ini jumlah mualaf di Spanyol meningkat drastis, sebagaimana dilaporkan oleh media lokal bahwa kaum terpelajar, akademisi dan aktivis anti-globalisasi banyak yang memutuskan masuk Islam.
Populasi Muslim di Spayol saat ini diperkirakan sekitar 1,5 juta dari total populasi sebesar 40 juta. Islam adalah agama kedua setelah Kristen dan telah diakui melalui hukum kebebasan agama, yang dikeluarkan pada bulan Juli 1967.
Perjalanan Spiritual Alfaro
Ketika orang bertanya kepada Alfaro tentang perubahan hati dan perpindahan dari Kristen ke Islam, dia memberikan jawaban yang sederhana.
"Allah ingin Islam menjadi pilihan saya dan hidup saya," jawab Alfaro tegas
Ketika memutuskan untuk menjadi seorang Muslim, Alfaro masih berusia 20 tahun dan masih sebagai pelajar sekolah menengah atas.
"Saya membaca Alquran, dan saya menemukan cerita yang sebenarnya tentang Yesus, kemudian saya memtuskan masuk Islam," paparnya.
Mengenang masa-masa pencariannya, Alfaro mengaku dulu adalah penganut Katolik yang taat.
"Berbeda dengan kebanyakan teman-teman saya yang tidak tertarik kepada masalah agama, saya justru rajin pergi ke gereja setiap hari Minggu dan rutin membaca Alkitab.
"Pada waktu itu, saya benar-benar tidak tahu tentang Islam."
Percakapannya dengan tetangganya, seorang Muslim Aljazair, telah mengenalkan Alfaro kepada Islam.
"Suatu kali kami bercakap-cakap, dan ia mengatakan bahwa semua manusia adalah keturunan Adam dan Hawa, dan bahwa kita semua anak-anak Nabi Ibrahim (Ibrahim)," kisahnya.
"Saya terkejut menemukan bahwa Islam dan Arab sebenarnya tahu Adam, Hawa dan Abraham."
Percakapan tersebut telah motivasi pemuda Katolik ini untuk menggali lebih dalam informasi tentang Islam.
"Selanjutnya yang saya lakukan adalah pergi ke perpustakaan dan meminjam terjemahan Alquran."
Ia membawa pulang Alquran tersebut ke rumah dan mulai membacanya secara hati-hati.
Perubahan pun terjadi, ketika Alfaro membaca dalam Alquran cerita tentang Yesus dan peristiwa penyaliban.
"Aku biasa membaca dalam Injil bahwa Yesus adalah anak Allah, dan bahwa Allah telah mengutus anaknya ke bumi untuk dibunuh dan disiksa guna membawa keselamatan kepada manusia. Inilah yang selalu menjadi ganjalan bagi saya, doktrin yang sulit untuk saya yakini." kenang Alfaro.
"Saya menemukan jawaban yang saya cari justru ketika saya membaca Alquran. Saya belajar bahwa Yesus tidak dibunuh atau disalib."
Muslim percaya kepada Yesus as sebagai salah satu nabi besar utusan Tuhan dan dan menempatkannya pada posisi terhormat.
Adapun penyaliban itu, umat Islam percaya bahwa Yesus tidak disalib namun diangkat ke langit.
Muslim percaya bahwa Yesus akan datang kembali ke bumi sebelum hari kiamat untuk memulihkan perdamaian dan ketertiban, melawan Dajjal (anti Kristus) dan membawa kemenangan bagi kebenaran dan keadilan.
Cerita Nabi Yesus dalam Alquran telah menyentuh hati Alfaro, yang saat ini telah berganti nama menjadi Mansour.
"Saya langsung tahu bahwa Alquran adalah kitab yang benar dari Allah. Dan saya memutuskan pada saat itu bahwa saya sangat ingin menjadi seorang Muslim," papar Alfaro.taq/iol
| < Prev | Next > |
|---|





"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja