Kisah Mualaf - Kisah Rohaniawan/Budayawan
Wednesday, 21 June 2006 05:16
'c2~
Pergantian agama saya dari Katholik menjadi Islam cukup melalui pertimbangan yang cukup lama +/- 4 tahun dari tahun 1994-1998. Awal perkenalan saya dengan Islam adalah ketika saya mengembalikan keranda Kakak ipar saya ke Masjid dan setelah itu mengikut tahlilan untuk mendoakan almarhum kakak ipar saya (nb: kakak ipar saya juga muallaf, satu-satunya anggota keluarga istri saya yang masuk Islam karena pernikahannya dengan seorang gadis Minang)
Singkat cerita, ketertarikan dan keinginan saya untuk mempelajari agama Islam semakin hari semakin bertambah, dan saya sering kali bermimpi tentang Islam dan menjadi muslim dalam mimpi. Betapa indahnya menjadi seorang muslim walaupun hanya dalam mimpi.
Suatu hari saya utarakan keinginan saya untuk masuk Islam dengan istri saya tapi istri saya malah bertanya " kamu mau menikah lagi apa ? ", saya jelaskan bahwa keinginan saya untuk masuk islam bukan karena ingin menikah lagi, tapi karena gejolak hati yang terus mencari agama yang benar, karena saya merasakan agama katholik yang saya yakini saat itu, sudah tidak dapat menentramkan jiwa saya.
Karena istri percaya akan alasan yang saya berikan akhirnya ia berkata " ok kalau mau masuk Islam nanti saja tunggu anak-anak sudah besar jadi tunggu pensiun dan tinggal di kampung, kalau dikucilkan keluarga sudah tidak masalah lagi ".
Saya tidak patah semangat dan saya terus berdoa agar Allah SWT menggerakan hati istri saya dan memberikan istri saya hidayah agar mau masuk kedalam agama Islam, agama yang paling sempurna dan di ridhoi oleh Allah SWT, Walaupun saya belum menjadi muslim (ketika itu), tapi setiap akhir dari doa saya selalu mengucakan salah satu dari ayat Yaasin yang jika dilafaskan berbunyi "Innama amaruhu idza araadha syaian ayakaulalahu kun fa ya kun" jika Allah SWT berkehendak terjadi maka terjadilah, tidak ada yang mustahil di hadapan Allah SWT. (mohon maaf jika salah dalam penulisan lafas dan arti harafiah salah satu ayat Yaasin di atas )
Suatu hari istri saya membaca majalah mingguan "Bintang", di salah satu cerita dalam majalah itu ada sebuah kisah kembalinya artis Gito Rolies ke dalam Islam setelah berpuasa Nabi daud. Istri saya lalu menyampaikan kepada saya mengenai kisah ini, dan mengatakan : " Coba kamu puasa Nabi Daud, kali-kali saja saya bisa terpanggil juga menjadi muslimah", lalu saya tanya: "Puasa Nabi Daud seperti apa sih ?" istri lalu menerangkan bahwa puasa Nabi Daud ialah puasa yang dilakukan secara berselang, sehari puasa, sehari tidak, dan seterusnya.
Dan karena tekad saya untuk masuk Islam harus bersama dengan istri (karena saya pernah membaca kalau salah satu dari pasangan hidup kita tidak seiman, maka bila berhubungan, hukumnya adalah zinah), maka akhirnya dengan tekad yang bulat itu, saya lakukan puasa Nabi Daud selama 1 bulan penuh.
Alhamdulillah 1 bulan setelah saya lakukan Puasa Nabi Daud, hati istri saya pun tergerak untuk mulai mempelajari Islam. Ada kejadian yang merubah pikiran istri saya, setelah saya lakukan puasa Nabi Daud, yaitu, ketika istri melakukan doa rosario di malam hari (pkl 02.00), sejenak terlintas dalam pikirannya betapa teduhnya ia melakukan doa secara Islam dengan menggunakan mukenah.Dan keesokan paginya istri saya langsung menceritakan kejadian malam itu dan mengatakan kepada saya untuk segera mencari tempat untuk belajar bagi warga keturunan Cina yang ingin masuk Islam. Saya sudah memiliki data tempat-tempat warga keturunan yang ingin masuk Islam.
Akhirnya saya dan istri berkunjung ke Yayasan Haji Karim Oei di Jl Lautze Pasar Baru. Alhamdulillah saya dipertemukan dengan Bp H. Syarif Tanudjaya (sekarang Sekjen PITI dan pimpinan pengajian MUSTIKA).
Betapa besarnya Rahmat dan Hidayah yang diberikan Allah SWT kepada kami sekeluarga, tak dapat kami membalas seluruh Rahmat Berkat dan Hidayah yang telah Engkau limpahkan bagi kami sekeluarga. Saya dan istri ingin sekali mengabdikan diri ini untuk kemaslahatan umat dan syiar tentang agama Islam yang sangat Mulia dan indah ini dan memuat aturan yang sangat lengkap bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun kehidupan di akhirat.
Kepindahan saya ke dalam agama Islam ini, bukan berarti saya menghapus seluruh pemahaman agama saya yang lama (Katholik), tetapi kepindahan ini merupakan kenaikan tingkat pemahaman dari agama yang lalu, dan merupakan penyempurnaan, dan meluruskan ajaran Nabi Isa yang telah di putar balikan oleh pengikutNya.
Semoga kisah singkat saya ini dapat membuka mata hati bagi calon mualaf yang sedang menunggu dan'c2~ untuk menerima Hidayah Allah SWT, dan jika ada hal yang masih ingin ditanyakan dan ingin tukar pikiran saya bersedia untuk membantu dan bisa hubungi saya pada alamat e-mail ini, atau Hp xxxx-xxx-xxxx atau ; 021-xxx-xxxxx'c2~ Wassalammualaikum wr. wb., Moh Haryanto Masin (Liem Tjeng Lie).
Seperti yang diutarakan Bpk Moh Haryanto Masin di Milis mualafindonesia, jika anda berminat berdiskusi dengan beliau dan rekan-rekan lainnya yg turut membantu calon mualaf dan mualaf 'c2~silahkan bergabung dalam milis This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it atau hubungi kami di Mualaf Center Online untuk mendapatkan email dan nomor HP Bpk. Moh. Haryanto Masin. ( www.mualaf.com )
| < Prev | Next > |
|---|





"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja