Tak banyak yang memahami kebutuhan mualaf (muallaf), padahal sebagai Muslim baru, mereka membutuhkan teman, tempat berlindung, dan juga pembimbing. Orang-orang yang baru saja hijrah ke dalam Islam, membutuhkan teman dan sahabat yang dapat memberi dukungan moril dan perlindungan dari kecaman keluarga maupun saudara, karena perpindahan agama bukanlah perkara sederhana ! Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kami menyediakan waktu untuk berbagi bagi calon mualaf ataupun mualaf, hubungi kami atau sahabat mualaf dengan email myfriend at mualaf dot com atau di milist mualafindonesia@yahoogroups.com

See Videos

Who's Online

We have 41 guests online

Ingin belajar Islam dan mengenal Islam atau ingin menyambung tali silaturahmi dengan para Sahabat Muallaf ? silahkan gunakan media chatting dibawah ini :

Yahoo Mesenger kami:
Steven_widjaja@yahoo.com

Atau untuk akhwat (wanita):
misscantyq@yahoo.com

BBM Konsultasi:
2931719A (steven Indra).

khusus wanita.
22627987 (Merlin / ummu Hanna)
26B44C0B (Dina Fitriani)

Google Talk:
Stevenindra@gmail.com

Windows Live Messenger:
stevenindra@hotmail.com

Twitter:
@stevenindraw

sms ke 0817 910 5900 (steven) Indra Wibowo

 

 

Sahabat Muallaf

Donasi untuk Zakat Infaq dan Sedekah (ZIS) @ Muallaf Center Online with Paypal

Paypal Donation & ZIS

Mutiara

Tidak ada yang pasti terjadi di dunia kecuali kematian. Dan tidak ada yang lebih dekat dari kita kecuali kematian

Putri Wong Kam Fu (Pek Kim Lioe) :Tergugah Acara MTQ Nasional

Print PDF

Kisah Mualaf - Kisah Tokoh

Saya adalah WNI keturunan yang tinggal di wilayah perkampungan muslim. Pergaulan dan interaksi saya kepada sesama warga sangat erat. Keluarga saya memang bukan keluarga muslim, namun masyarakat sekitar sudah menganggap keluarga saya seperti saudara sendiri. Dari sinilah saya merasakan adanya persamaan dan persaudaraan. Dan, dari sini pula saya mulai mengenal ajaran mereka
Saya lahir 22 Oktober 1953 di Batu, Malang, Jawa Timur. Kedua orang tua memberi nama saya Pek Kim Lioe. Saya anak tunggal dari pasangan Pek Sek Liang dan Ani. Karena sesuatu hal, kedua orang tua saya akhirnya bercerai. Saya akhimya diasuh oleh ibu tiri selama lima tahun. Sejak kecil saya dididik dalam lingkungan Nasrani, mulai SD hingga SMA.

Belum tamat SMA, saya dipinang dan kemudian menikah dengan Gabriel Dela Dorolatta Mustar, seorang pemuka Nasrani asal Nganjuk. Mustar adalah seorang guru SMP di Batu. Perkawinan saya dengan Mustar dikarunia tujuh orang anak. Tetapi, seorang di antara anak kami meninggal dunia di usia balita. Mereka adalah Vincencius Budi Prasetyo, Wongso Wijoyo, Kurniawati, Sumirasari, Rama, dan Linda.

Tertarik Pada Islam

Suatu ketika saya bersama suami nonton televisi mengenai Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) yang disiarkan langsung dari kota Pontianak (Kalbar). Saat acara berlangsung, kami menatap dengan penuh perhatian. Kami berdua membisu. Tiba-tiba saya terkejut mendengar suami saya bertanya, "Leoni, bagaimana kalau kita masuk Islam?" Pertanyaan yang tiba-tiba ini membuat saya kaget. Saya langsung membisu sambil menatapnya. Pertanyaan suami saya itu memang sudah lama saya tunggu. Saya sangat mendambakan pertanyaan itu terlontar.

Pertanyaan ini terasa memberikan kedamaian. Ada kesejukan dalam batin ini. Sesungguhnya sudah lama saya merindukan sebuah kedamaian. Sebelumnya, saya pernah merasakan kedamaian ketika mendengarkan alunan suara azan magrib dan subuh dari sebuah masjid yang berada tak jauh dari tempat tinggal saya.

Alunan suara yang memanggil orang Islam untuk segera shalat ini, sering membuat saga resah. Saya berusaha secara diam-diam mencari rahasia apa yang sesungguhnya ada di balik suara yang menggetarkan hati saya itu. Tanpa diketahui suami, saya mulai mempelajari buku-buku agama Islam yang saya beli diam-diam. Terkadang, tanpa rasa malu dan sungkan saya datangi tokoh-tokoh agama di kampung, dan bertanya berbagai hal yang berkaitan dengan Islam.

Oleh kakek saya, Empeh Wong Kam Fu, saya diperkenalkan kepada Haji Masagung (almarhum). Haji Masagung adalah pengusaha muslim keturunan Cina dan juga teman kakek sejak kecil. Oleh beliau saya diberi dua buah buku agama yang berjudul, Dialog Islam dan Kristen dan Sejarah Islam Tionghoa.

Sava akui, kedua buku itu sangat mempengaruhi keimanan saya. Segala kegiatan yang saya lakukan sengaja Saya sembumyikan. Tak pernah sedikit pun saga membicarakan apa yang saya lakukan kepada suami saya. Saya benar-benar ingin menjaga perasaannya.

Rasa simpati saya kepada orang Islam dan ajarannya makin tak tertahan lagi, ketika kakek saya Empeh Wong Kam Fu meninggal dunia. Kendati kakek saya orang Tionghoa dan beragama lain, ternyata yang datang melayat dan membantu mengurusi jenazahnva justru orang Islam setempat. Mereka dengan sukarela dan ikhlas membantu tanpa melihat latar belakang suku dan agama. Hati saya terpesona dengan kekerabatan orang Islam setempat. Rasanya, saat itu saya ingin mengutarakannya kepada suami.

Keinginan itu sempat saya tahan. Ternyata suami saga pun diam-diam mengamati kegiatan orang Islam di sekitar rumah kami. Dan, ia sangat terharu pada keikhlasan masvarakat dalam membantu keluarga kami yang tengah mendapat musibah. Puncaknya, ia mengutarakan keinginan untuk masuk Islam saat menonton siaran MTQ di televisi. Akhirnya kami berdua sepakat untuk masuk Islam.

Tindakan pertama untuk mewujudkan keinginan itu, kami berdua pergi ke Jakarta untuk menemui Haji Masagung. Sesampai di Jakarta, kami langsung menemuinva, namun tidak mendapat sambutan. Haji Masagung berkata kepada kami, "Bila hendak menjadi seorang muslim sejati, syaratnya harus berani menderita dan mati atas nama Islam. Dan, kalau kalian mau masuk Islam, tak perlu jauh-jauh ke Jakarta. Cukup melalui KUA (Kantor Urusan Agama) setempat saja".

Setelah bertemu Haji Masagung, kami segera pulang ke Malang. Sesuai saran teman kakek saya itu, kami menemui Pak Kasdri, modin (petugas azan) masjid. Kedatangan kami disambut dengan sukacita. Wajah Pak Kasdri berseri-seri saat mendengar niat kami ingin masuk Islam.

Esok harinya, Pak Kasdri mengajak kami ke kantor KUA Kecamatan Batu. Di sana kami dipertemukan dengan staf KUA, Bapak Nuryasin Masdrah. Oleh beliau kami diimbau untuk berpikir dan mempertimbangkannya masak-masak. Namun, keinginan untuk masuk Islam sudah menggebu-gebu. Terutama suami saya. la langsung menanyakan berbagai hal kepada Pak Nuryasin. Semua pertanyaan suami saya dijawab dengan sabar olehnya.

Untuk memantapkan hati, kami terus berdialog dengan Pak Kasdri dan K.H. Sayuti Dahlan, seorang tokoh Islam di Malang. Dan, kami sebagai orang tua juga memberitahukan dan mengajak anak-anak kami untuk memeluk Islam. Ajakan kami ternyata dituruti oleh anak-anak kami.

Masuk Islam

Taufik dan hidayah akhirnya datang juga kepada keluarga kami. Sebelum mengucapkan syahadat, kami sekeluarga mempersiapkan diri. Sava membersihkan seluruh tubuh. Begitu juga suami dan anak-anak kami. Saya mengenakan kain panjang dan baju kebaya tertutup dan pakai kerudung. Suami saya mengenakan kain sarung baju putih lengan panjang dan kopiah. Demikian juga dengan anak-anak kami.

Alhamdulillah, tepat bakda Jumat, di Masjid an-Nur, tanggal 12 Juli 1985, kami sekeluarga dibimbing K.H. Suyuti Dahlan, mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Sungguh, saya tak dapat menahan haru. Air mata saya menetes. Sava sangat bersyukur. Tiba-tiba hati saya yang selama ini gelisah menjadi damai.

Setelah menjadi seorang muslimah, nama saya segera diganti menjadi Fatimah. Dan, nama pemberian itu saya gabungkan dengan nama lama saya, sehingga menjadi Leoni Fatimah. Nama suami saga menjadi Mohammad Mustar. Keharuan kian menjadi setelah ikrar selesai. Oleh Pak Kasdri saya diberi selembar sejadah dan oleh H. A Zakaria, suami saya diberi kopiah.

Para tetangga menyambut dan bersvukur atas masuk Islamnya kami sekeluarga. Untuk menambah dan memperkokoh keimanan, saya bersama suami dan anak-anak mulai aktif belajar membaca dan menulis Al-Qur'an serta pengajian. Saya mendirikan mushala di rumah untuk shalat berjamaah. Alhamdulillah, tahun 1987 saya dapat menunaikan ibadah haji.

Saya mulai aktif berdakwah, setelah terpilih menjadi Ketua Yayasan Karim Oei Jawa Timur, pada 26 November 1995. Dalam memimpin yayasan ini saya mencanangkan salah satu program untuk mengajak warga keturunan mengenal dan memahami Islam secara lebih mendalam, yaitu lewat kegiatan rutin belajar membaca dan menulis AI-Qur'an dan pengajian.

 

(Maulana/Albaz) (dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ )

Google
"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja
Konsultasi Muallaf juga bisa dengan mendatangi langsung ke  :
  • Masjid Raya Mekar Indah Jl. Puspita II No. 1, Sektor Mekar Indah, Perumahan Cikarang Baru, Kota Jababeka, Cikarang, Bekasi 17550, Telp.021 8983 2007 (telp masjid) Tp yang mengangkat nanti takmir masjid dan  minta dihubungi/disambungkan ke Masruri Mohammad Asy'ari atau via FB ybs.
  • Mr. Gene Netto via blognya di http://genenetto.blogspot.com/ untuk janjiannya
  • Masjid Agung Sunda Kelapa setiap hari, jadwal dapat dilihat di sini
  • untuk wilayah tangerang bisa menghubungi Masjid Al-Karim, Bintaro dengan bapak Johansyah Reza di 0811 99 44 22
  • untuk wilayah bandung dan sekitarnya dapat menghubungi mualaf center Daarut Tauhid dengan Ibu Ummu Hanna di 0815 73 6666 59
  • untuk wilayah Kota Semarang dan sekitarnya dapat menghubungi Masjid Asy-Syifa di Jalan Pemuda, Rumah Sakit dr. Karyadi, Semarang dengan Ibu Sisian Indraswari di 0813 2500 8364
  • untuk wilayah Surabaya, sampai Gresik dapat menghubungi Bapak Harris di 0813 3031 4137
  • Masjid Al-Hidayah, Gandaria City Lantai. 4, untuk kontak silahkan ke Em Riza 0856 800 8400 atau ke Aisiyah Eiyin 083 8860 6606
Untuk wilayah kota lainnya dapat menghubungi  Steven Indra di 0817 910 5 900