Tak banyak yang memahami kebutuhan mualaf (muallaf), padahal sebagai Muslim baru, mereka membutuhkan teman, tempat berlindung, dan juga pembimbing. Orang-orang yang baru saja hijrah ke dalam Islam, membutuhkan teman dan sahabat yang dapat memberi dukungan moril dan perlindungan dari kecaman keluarga maupun saudara, karena perpindahan agama bukanlah perkara sederhana ! Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kami menyediakan waktu untuk berbagi bagi calon mualaf ataupun mualaf, hubungi kami atau sahabat mualaf dengan email myfriend at mualaf dot com atau di milist mualafindonesia@yahoogroups.com

See Videos

Who's Online

We have 41 guests online

Ingin belajar Islam dan mengenal Islam atau ingin menyambung tali silaturahmi dengan para Sahabat Muallaf ? silahkan gunakan media chatting dibawah ini :

Yahoo Mesenger kami:
Steven_widjaja@yahoo.com

Atau untuk akhwat (wanita):
misscantyq@yahoo.com

BBM Konsultasi:
2931719A (steven Indra).

khusus wanita.
22627987 (Merlin / ummu Hanna)
26B44C0B (Dina Fitriani)

Google Talk:
Stevenindra@gmail.com

Windows Live Messenger:
stevenindra@hotmail.com

Twitter:
@stevenindraw

sms ke 0817 910 5900 (steven) Indra Wibowo

 

 

Sahabat Muallaf

Donasi untuk Zakat Infaq dan Sedekah (ZIS) @ Muallaf Center Online with Paypal

Paypal Donation & ZIS

Mutiara

“To convert to Islam is very easy. Probably the most difficult part of that, is to make sure that you are really convinced that Islam is the truth and the right way to follow. What you need to do after becoming a Muslim is learning some Islamic regulations. Islam is a practical religion and it provides clear guidance on what to do and not to do”.

Lee Djie Men : Mimpi Shalat Mengadarkan Diri Saya

Print PDF

Kisah Mualaf - Kisah Tokoh

SAYA dilahirkan pada tanggal 1 Juni 1946 di Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur. Kami bertetangga dengan keluarga Bapak H. Harmoko, mantan Ketua DPR/MPR RI. Beliau adalah sahabat saya sejak kecil. Meskipun akhirnya jalan hidup kami berbeda, namun itu tak membuat jarak di antara kami. Kami tetap Akrab bila bertemu.

Saya terjun ke bidang bisnis dan industri tekstil. Kisah saya jadi industriawan dan pengusaha tekstil yang sukses saya mulai ketika menjadi pedagang tekstil kecil-kecilan di Pasar Klewer, Solo. Waktu itu saya wara-wiri menjual tekstil eceran. Lalu, meningkat sampai mempunyai sebuah kios tetap.

Rupanya, sava memang hoki berbisnis tekstil, sehingga lambat laun sava bahkan bisa membuka pabrik tekstil sederhana yang berlokasi di Jl. Kiai Maja di tepi Bengawan Solo. Dengan memiliki pabrik tekstil sendiri, usaha bisnis saya maju kian pesat. Lalu, bersama kakak kandung sava, kami mendirikan pabrik tekstil besar seluas 65 hektar dengan investasi 300 miliar rupiah. Pabrik tersebut kami beri nama PT Sri Rejeki Isman (Sritex), berlokasi di Desa Jetis, Sukoharjo. Karyawan yang berkerja di sini kurang lebih 20.000 orang.

Pada tanggal 3 Maret 1992, pabrik kami tersebut turut diresmikan oleh Bapak Soeharto bersama 275 pabrik aneka indusri lainnya di daerah Surakarta, Jawa Tengah. Bukan main bangganya kami ketika itu. Terutama saya tentunya. Cita-cita saya untuk menjadi orang kaya, tercapai sudah. Kini orang tak bisa lagi menghina diri saya seenaknya. Sebab, saya bukan lagi Lukminto yang dulu (miskin). Lukminto hari ini adalah Lukminto yang kaya raya, bahkan berhak menyandang gelar "Raja Tekstil".

Tapi benarkah saya bahagia? Secara lahiriah memang, saya tak kurang suatu apa pun. Punya rumah mewah, punya harta berlimpah, punya pabrik modem dengan ribuan karyawan, dan punya istri cantik yang setia. Kurang apa lagi? Tapi, ada satu hal yang tidak pernah saya rasakan: batin sava tak pernah tenang. Saya selalu diliputi kegelisahan, karena selalu berpacu mengejar materi.

Bpk. HarmokoSebagaimana umumnya WNI keturunan Tionghoa, keluarga kami adalah penganut agama Budha Konghucu, yakni agama Budha yang telah bercampur dengan tradisi dan pandangan hidup leluhur kami. Tetapi, karena kami dari keluarga miskin maka pendidikan agama kurang mendapat perhatian. Kami iebih disibukkan untuk mencari uang. Sejak kecil saya telah diajar untuk berdagang.

Saya masih ingat, pulang sekolah, saya dan kakak langsung berdagang makanan-makanan kecil, seperti kacang goreng, permen, rokok, dan lain-lain. Kedua orang tua kami selalu menekankan kepada kami agar kelak harus menjadi orang kaya. Sebab jadi orang miskin itu tidak enak, selalu jadi cemoohan dan hinaan orang, begitu pesan mereka. Kami pun selalu dididik untuk tidak boleh puas terhadap perolehan yang kami dapat. Kalau perolehan yang kami dapat hari ini sama dengan yang kemarin, itu berarti rugi.

Karena dicambuk oleh hal-hal yang seperti itu, saya tumbuh menjadi anak yang mandiri dan ulet. Saya tak punya cita-cita yang muluk-muluk sebagaimana lazimnya teman teman seusia saya ketika itu -jadi pegawai negeri, ABRI, polisi, pilot, dokter, dan lain-lain. Saya cukup bercita-cita jadi orang kaya.

Mengapa begitu? Sebab, saya tahu diri. Sebagai WNI keturunan, nasib kami nyaris ditentukan oleh usaha dan keuletan kami sendiri. Setelah saya beranjak remaja, saya semakin sadar bahwa posisi kami "kurang beruntung" dibandingkan saudara-saudara kami lainnya. Kami tak bisa jadi ABRI, kami tak boleh jadi pegawai negeri. Padahal kami sudah lahir di negeri ini, dan mencintai negeri ini sama besarnya seperti saudara-saudara kami dari suku-suku lainnya di Nusatara ini. Tapi, itulah kenyataan.

Tak Punya Pegangan

Tak ada jalan lain bagi kami untuk dapat bertahan hidup, selain mengonsentrasikan seluruh daya dan kemampuan kami dalam bidang perdagangan. Itulah barangkali faktor yang membuat kami menjadi suku bangsa yang ulet berdagang. Tapi, risikonya, ya itu tadi, perhatian terhadap kehidupan beragama sangat kurang. Bahkan dalam soal yang satu ini, saya nyaris tak punya pegangan yang pasti. Di rumah, saya beragama Budha Konghucu, tapi di sekolah saya beragama Kristen.

Agama buat saya ketika itu, tak lebih hanya sebagai tempelan belaka. Sebagai penganut Budha, saya nyaris tak pernah ke wihara untuk bersembahyang. Begitu pun sebagai penganut Kristen, saya nyaris tak pernah ikut kebaktian di gereja. Karena terlalu dikejar obsesi untuk menjadi orang kaya, saya jadi lupa segalanya. Saya tak tahu lagi mana yang halal dan mana yang haram.

Gunung Kawi Temple Semua cara akan saya tempuh untuk memperoleh kekayaan. Termasuk dengan jalan "muja" ke Gunung Kawi. Di tempat yang dianggap keramat ini banyak orang yang datang untuk minta pasugihan (kekayaan). Melalui petunjuk yang diberikan kuncen, saya mulai nglakoni (menjalankan) beberapa persyaratan yang tak bisa saya ceritakan di sini.

Alhasil, dalam tempo singkat usaha dagang saya maju pesat. Yang semula saya hanya pedagang tekstil eceran, meningkat bisa membuka kios, lalu membuka pabrik tekstil sederhana, sampai akhirnya mendirikan pabrik tekstil raksasa seperti PT Sritex tersebut. Kendati sudah menjadi Raja Tekstil, namun batin saya kosong dari siraman rohani. Saya tak pernah merasakan kebahagiaan dan kedamaian, sebagaimana yang sering saya saksikan dari kehidupan kaum muslimin.

Sebagian besar karyawan saya beragama Islam. Sering saya saksikan, di sela-sela waktu istirahat makan siang, mereka tak lupa menunaikan sembahyang (belakangan saya tahu itu disebut shalat). Meskipun waktu itu di pabrik ada tempat khusus untuk shalat (mushala atau masjid), namun mereka tetap mendirikan shalat di beberapa tempat seperti di gudang dan di lorong-lorong pabrik.

Sering saya amati, usai shalat wajah mereka tampak begitu cerah. Seakan terpancar dari jiwa mereka yang tenang. Padahal saya tahu pasti, gaji mereka tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kekayaan yang saya miliki. Suatu kali, secara iseng pernah saya tanyakan kepada salah seorang karyawan, mengapa mereka begitu disiplin melaksanakan shalat.

Apa jawabnya? Jawabannya sungguh membuat saya terkejut. "Kami shalat sernata-mata untuk mencari keridhaan Allah, sebab hidup di dunia hanya sementara. Ada kehidupan yang kekal di akhirat kelak, yang harus kami persiapkan sebelum mati," begitu jawab mereka.

Sungguh, selama itu saya tak pernah berpikir tentang mati. Yang saya tahu, kematian itu hanyalah akhir dari kehidupan. Sedangkan menurut karyawan saya yang muslim tadi, kematian adalah pintu atau jalan antara untuk menuju alam lain yang disebut akhirat, di mana segala perbuatan manusia akan diperhitungkan sesuai baik-buruknya. Mengingat itu semua, bulu kuduk saya berdiri. Sungguh, saya amat takut menghadapi kematian dalam keadaan saya yang bergelimang dosa.

Mimpi Shalat

Sejak itu, saya jadi pendiam. Sava jadi lebih suka merenung dan berpikir tentang diri saya sendiri. Saya pun mulai suka mengikuti siaran Mimbar Agama Islam yang ditavangkan TVRI setiap Kamis malam. Begitu tenggelamnya saya dalam perenungan, sehingga pada suatu malam, tepatnva 10 Januari 1994 bertepatan malam 27 Rajab (Isra Mikraj), saya bermalam di vila kami yang sejuk di daerah Tawangmangu (Solo). Dalam tidur sava bermimpi diberikan sehelai sajadah oleh teman karib saya, lalu saya disuruh melaksanakan shalat.

"Saya nggak bisa shalat," jawab saya. Lalu, teman saya memberi contoh bagaimana caranya shalat. Setelah paham, saya pun disuruh mengulangi gerakan shalat yang ia peragakan. "Shalatlah kamu," katanya. Lalu, saya pun shalat. Tapi, baru separo jalan, saya pun terjaga. Temyata, itu hanya mimpi.

Sejak bermimpi seperti itu, saya jadi gelisah. Istri saya pun sempat bingung melihat diri sava. Tapi saya tak menceritakan mimpi itu kepadanya. Untuk beberapa waktu lamanya, mimpi itu hanya jadi rahasia diii saya seorang. Tapi lama-lama saya tak tahan juga untuk tidak bercerita.

Kebetulan, saya mempunyai tukang pijat pribadi, namanya Pak Edi. la seorang muslim yang taat. Ketika pada suatu malam sava minta dipijat olehnya, saya ceritakanlah mimpi itu kepadanya. Mendengar cerita mimpi saya itu, Pak Edi spontan bergumam, "Subhanallah, insya Allah tak lama lagi Bapak akan masuk Islam," katanya mantap. "Benarkah?" tanya Saya. "Insya Allah," jawabnya pasti.

Sejak itu, saya pun mulai dibimbingnya untuk melaksanakan shalat. Saya pun mengikuti sarannya untuk berkhitan. Tapi itu semua saya lakukan secara sembunyi-sembunyi. Saya bahkan dikhitan di Jakarta. Ketika masuk bulan suci Ramadhan, saya pun ikut melaksanakan ibadah puasa dan mengeluarkan zakat (mal).

Karena sudah merasa mantap dengan pilihan hati saya itu, Pak Edi menyarankan agar keislaman saya itu harus segera diproklamirkan. Alasannya, agar semua orang tahu bahwa saya sudah muslim. Sarannya itu pun saya terima.

Singkat cerita, pada tanggal 11 Maret 1994 bertepatan dengan peringatan Supersemar, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat di hadapan umat Islam dan karyawan PT Sritex, dibimbing oleh pimpinan Pondok Pesantren al-Mukmin, Ngruki, Ustadz H. Moh. Amir, S.H.

Alhamdulillah, istri saya pun kini telah menjadi seorang muslimah. Bahkan pada tahun 1995 lalu, bersama istri dan 10 orang staf PT Sritex, kami berkesempatan menunaikan ibadah haji.

oleh Basit Adnan/Albaz dari Buku "Saya memilih Islam" Penyusun Abdul Baqir Zein, Penerbit Gema Insani Press website : http://www.gemainsani.co.id/ oleh Mualaf Online Center (MCOL) http://www.mualaf.com

Google
"Setelah seorang keturunan Tionghoa menjadi muslim, maka keadaannya sungguh berlainan. Antara si pribumi (yang umumnya beragama Islam) dan nonpri keturunan Tionghoa yang masuk Islam, terjalin suatu hubungan batin yang luar biasa menakjubkan. Persamaan agama, dalam hal ini Islam, menciptakan hubungan mesra dan mengharukan sebagai saudara seagama. Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, arti dan nilai saudara sekandung tidak lebih besar dari saudara seagama. Bahkan, saudara sekandung bisa berbeda agama dengan segala konsekuensinya di akhirat. Sedangkan, saudara seagama sifatnya abadi di dunia maupun di akhirat." Junus Jahja
Konsultasi Muallaf juga bisa dengan mendatangi langsung ke  :
  • Masjid Raya Mekar Indah Jl. Puspita II No. 1, Sektor Mekar Indah, Perumahan Cikarang Baru, Kota Jababeka, Cikarang, Bekasi 17550, Telp.021 8983 2007 (telp masjid) Tp yang mengangkat nanti takmir masjid dan  minta dihubungi/disambungkan ke Masruri Mohammad Asy'ari atau via FB ybs.
  • Mr. Gene Netto via blognya di http://genenetto.blogspot.com/ untuk janjiannya
  • Masjid Agung Sunda Kelapa setiap hari, jadwal dapat dilihat di sini
  • untuk wilayah tangerang bisa menghubungi Masjid Al-Karim, Bintaro dengan bapak Johansyah Reza di 0811 99 44 22
  • untuk wilayah bandung dan sekitarnya dapat menghubungi mualaf center Daarut Tauhid dengan Ibu Ummu Hanna di 0815 73 6666 59
  • untuk wilayah Kota Semarang dan sekitarnya dapat menghubungi Masjid Asy-Syifa di Jalan Pemuda, Rumah Sakit dr. Karyadi, Semarang dengan Ibu Sisian Indraswari di 0813 2500 8364
  • untuk wilayah Surabaya, sampai Gresik dapat menghubungi Bapak Harris di 0813 3031 4137
  • Masjid Al-Hidayah, Gandaria City Lantai. 4, untuk kontak silahkan ke Em Riza 0856 800 8400 atau ke Aisiyah Eiyin 083 8860 6606
Untuk wilayah kota lainnya dapat menghubungi  Steven Indra di 0817 910 5 900