close

Donasi untuk Website Muallaf Center Online

Terima kasih atas donasi yang telah anda berikan untuk kami Muallaf Center Online, sehingga saat ini Muallaf Center Online dengan alamat http://www.mualaf.com atau http://www.muallaf.com telah hosting di tempat yang baru dengan kapasitas bandwidth yang lebih besar, lebih dari cukup untuk pengembangan website ini lebih lanjut.

Kami akan berterima kasih jika anda tetap secara kontinyu memberikan donasinya kepada Muallaf Center Online Website, anda dapat mengirim atau mentransfer ke Rekening Muallaf Center Online dengan rekening a/n Irwan Hermawan, BCA - KCP Rawamangun, Jakarta, dengan Nomor Rekening 094-054-6192 atau via Account Paypal : donasi [at] mualaf [dot] com.
Donasi Anda
Jadwal Sholat Hari Ini
Shubuh 04:48
Terbit Fajar 17:58
Dzuhur 11:57
Ashar 15:17
Maghrib 17:55
Isya 19:01
Untuk Jakarta & sekitarnya
Polling & Survey
Bagaimana menurut anda mengenai tampilan baru Mualaf Center Online ?
 
How Can I Help ?

Punya keingintahuan seputar Islam atau pertanyaan apapun tentang Islam, silahkan pilih salah satu jalur ini

Insya Allah kami siap membantu anda langsung atau mereferensikan anda ke Team kami terdekat di daerah anda::


Yahoo! Messenger


keat_beckhan

mualafindonesia

We have 50 guests online

Total Members

Hari ini1
Kemarin0
Minggu ini1
Bulan ini3
Total Members : 591
Last Singgih offline

CB Online

None

CB Login


Rwanda Genocide

Islam at Wikipedia

Redaksi menerima tulisan artikel dari para anggota Muallaf Center Online untuk "Oase Iman", kirimkan tulisan dan artikel anda ke artikel at mualaf dot com dan tulisan akan dimuat setelah melalui tahapan dan proses di redaksi.


Google
 

Agus Kuncoro : Bekal Agama PDF Print E-mail
Friday, 16 May 2008 08:59
Doa kepada Allah SWT itu bagaikan permintaan anak kita yang taat, shaleh banget, dan kita juga sangat mampu. Tapi, anak kita yang masih duduk di bangku kelas tiga itu minta dibelikan motor Harley Davidson. Kira-kira kita belikan? Jawabnya pasti tidak. Ada dua alasan yang mendasari mengapa kita tidak memenuhi permintaan anak kita. Pertama, kita sayang sama anak kita. Kedua, tidak cocok. Karena permintaan yang pas untuk anak kelas tiga adalah sepeda. Begitu juga doa kita kepada Allah SWT. Mengapa tidak selamanya dikabulkan? Karena Allah SWT sangat sayang kepada kita.''

Kata-kata penuh bijak itu meluncur dari mulut Agus Kuncoro. Bintang film kelahiran Jakarta yang memerankan tokoh Ardan dalam film Kun Fayakuun ini sangat merasakan kasih sayang Allah SWT. Buktinya, setelah beberapa tahun pernikahannya dengan sang istri, Anggia, kini telah hamil dan di ambang kelahiran. ''Alhamdulillah, sekarang aku benar-benar merasakan kebesaran Allah swt. Aku benar-benar merasakan kasih sayang dan rahmat Allah SWT. Allah itu Mahasempurna dengan segala rencana-Nya,'' ungkap Agus kepada Republika di sela-sela peluncuran film Kun Fayakuun di Jakarta akhir pekan lalu.

Pria yang sempat menimba ilmu di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini sempat goyah ketika secara bertubi-tubi mendapatkan ujian dari Yang Mahakuasa. Tahun 2002, rumahnya di kawasan Bintaro Jakarta Selatan, tiba-tiba kebanjiran sampai habis semua barangnya. Tak lama setelah itu, ibunya, Ny Nuke, meninggal. Tiga bulan kemudian, ayahnya, Ir Hari Susatyo meninggal. "Selama ibu dan bapak saya meninggal, masih kuat karena masih ada yang saya pegang. Waktu itu saya ada pacar, namanya Anggia, yang sekarang menjadi istri saya. Ternyata saya harus putus juga sama Anggia saat itu,'' paparnya getir.

Agus pun sampai pada titik nol dan bingung karena tiba-tiba gamang. Sejak kecil, ia terbiasa jauh dari keluarga. Kakaknya yang satu tinggal di Palembang, sedangkan kakaknya yang lain tinggal di Amerika Serikat. ''Pokoknya jaraknya jauh-jauh dan tidak ada tempat untuk diajak bicara. Waktu itu yang biasa saya ajak bicara itu adalah pacar saya. Tapi, tiba-tiba putus makanya saya mau berbicara kepada siapa lagi,'' ungkap Agus yang mengaku sebelum tahun 2002 hidupnya serba kecukupan.

Ujian tak cukup sampai di situ. Rumah tempat dia kos, tiba-tiba terbakar ludes. Satu-satunya barang yang masih berharga adalah handuk kecil yang kemudian ia gunakan untuk menutupi wajahnya yang tak mampu untuk membendung tangis. ''Saat itu, dalam hati berbisik, nanti malam saya mau tidur di mana? Apa di masjid atau di rumah kakak? Hidup saya seperti jalan di tempat," tuturnya.

Akhirnya ada yang mengajaknya ke seorang ulama di Parungkuda Sukabumi. Agus pun menceritakan seluruh pengalaman pahitnya, mulai dari rumahnya yang kebanjiran, kedua orang tuanya yang telah meninggal dunia hingga kosnya yang terbakar. Sang ulama hanya berujar singkat, ''Kamu pelit!''

Agus pun tersentak. Perasaannya selama ini ia tidak terlalu mengepal tangan kepada orang yang tidak mampu. Ia bahkan dinilai banyak rekannya sangat ringan tangan membantu yangmembutuhkan. Seakan mengerti apa yang dipikirkan Agus, ulama itu meneruskan tausiyahnya. ''Ya, setiap kali kamu memberi, kami tidak pernah berdoa. Apakah ada ijab kabul setiap kali kamu sedekah? Adakah permintaan yang kami panjatkan kepada Yang Mahakuasa setelah kamu bersedekah?''

Agus mulai paham. Sejak itu, ia tak hanya rajin bersedekah dan beribadah, tapi juga memohon kepada Yang Mahakuasa atas karunia dan rahmat-Nya. Salah satu doa yang dikabulkan adalah permohonannya akan anak dari rahim istrinya Anggia. Agus merasa bersyukur, karena kedua orang tuanya membekali ajaran Islam sejak kecil. ''Saya sejak kecil sudah dikenalkan Islam, guru ngaji ada yang ke rumah.

Salah satu yang membuat saya tidak kuat adalah pergaulan yang 'gila' sekarang. Jadi, ternyata fondasi agama yang dibangun ketika saya kecil, manfaatnya sangat besar. Apalagi ketika saya mulai masuk ke SMP pergaulannya semakin luas kemudian SMA tambah luas, jadi sejauh-jauhnya saya melenceng tetap akan kembali lagi karena dasarnya sudah dikenalkan,'' ungkap Agus penuh syukur. dam
 
Google

Mutiara

Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa dilanda kesusahan dalam suatu masalah hendaklah dia mengucapkan Laa Haula wa laa quwwata illa bil-laahil 'aliyyil-'azhiim' (Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah yang maha Tinggi lagi Maha Agung" (H.R Baihaqi dan Ar Rabi'i)

MESKI bukan suatu keharusan, tetapi sudah menjadi kebiasaan apabila masyarakat keturuian Tionghoa di daerah kelahiran saya menganut agama Budha, agama tradisi keluarga yang diajarkan nenek movang kami sacara turun temurun. Saya dilahirkan di Tanjung Pura, Kecamatan Langkat, Sumatra Utara, 8 April 1956, nama kecil saya Ng Gek Hua.

Read more...