|
Para penikmat acara pengajian di layar kaca tentu mengenali sosok HM Subki Al-Bughuryi. Dai muda ini menyampaikan materi-materi agama dengan penyampaian secara ringan dan gampang dimengerti. Tak heran kalau sosoknya digemari anak-anak muda.
Ditemui beberapa waktu lalu, Subki menceritakan perjalanan hidup yang menggiringnya menjadi seperti sekarang ini. Menurut dai asal Bogor ini, ketertarikannya menjadi dai karena dilatarbelakangi minta dan alasan keluarga. ''Kakek dan paman saya adalah ulama di Bogor,'' ujarnya menjelaskan alasannya memutuskan menjadi dai.<
Namun, ia mengaku, langkahnya dimantapkan saat ia duduk di SMA. Bersama dengan beberapa orang sahabatnya di SMA 33 Cengkareng, Jakarta Barat, mereka membuat perjanjian tentang kelanjutan sekolah mereka. ''Kami bagi-bagi jurusan, ada yang ke teknik, ekonomi, dan beberapa bidang lain. Saya sendiri oleh teman-teman disuruh kuliah di jurusan syariah,'' katanya mengenang.
Kawan-kawan sekolah Subki bukan tanpa alasan menyuruhnya masuk ke jurusan syariah. Sejak duduk di SMP, Subki remaja sudah tertarik pada ilmu agama. Kegemaran ini berlanjut ketika ia duduk di SMA. Ketika, remaja lainnya menghabiskan waktu bersenang-senang dan sibuk dalam pergaulan, Subki justru sebaliknya.
Ketika duduk di kelas dua SMA, ia mengikuti pengajian.Ia juga menambah ilmunya dengan terus menerus belajar agama, baik dari buku, maupun mengaji. Koleksi buku agama milik kakeknya, ia jadikan salah satu referensi. Tak heran jika di usia muda, Subki cukup menguasai ilmu agama.
Meski begitu, aktivitas remajanya tidak hanya disibukkan dengan belajar agama. Saat bersekolah di SMP, pria yang memasang nama Al-Bughuri yang menandakan ia berasal dari Bogor ini, pernah menjadi sutradara teater yang karyanya dipentaskan di TVRI. Puas dengan klub teater, Subki pun bergabung dengan Kelompok Studi Islam.
Karena ketertarikan dan pemahamannya terhadap ilmu agama inilah yang membuatnya dipercaya untuk menggantikan guru agamanya mengajar. Ketika di kelas dua SMA, kenangnya, guru agamanya seringkali kerepotan untuk mengajar.
Lokasi kelas yang terletak di lantai tiga, membuat sang guru yang sudah lumayan sepuh tidak kuat jika harus naik turun tangga. ''Jadinya seringkali saya disuruh beliau untuk menggantikannya mengajar,'' ujarnya. Sibuk berdakwah di usia muda, membuat pria kelahiran Bogor, 7 September 1972 ini dinobatkan sebagai "Dai Sekolah" oleh teman-teman SMA-nya. Lulus SMA, minatnya terhadap ilmu agama semakin menguat. Ia pun kembali menekuni kitab-kitab milik sang kakek yang merupakan mualim (ulama) asal Bogor. ''Setiap kali saya pulang ke Bogor, saya sedih melihat kitab-kitab itu terbengkalai,'' ujarnya.
Menurut Subki, meskipun banyak di antara sepupu-sepupunya yang bersekolah di madrasah ataupun aliyah, mereka tidak menunjukkan minat terhadap warisan berharga sang kakek. ''Jadilah saya yang memanfaatkannya,'' ujar bapak empat putera ini.
Sejak itulah, minatnya menjadi penyebar ajaran agama semakin besar. Suami dari Etty Supriyati ini kemudian semakin aktif mengikuti pengajian dan juga kursus-kursus. Salah satu kursus yang diikutinya adalah kader Mubaligh Al Azhar.
Pria yang menikah di usia 21 tahun inipun sempat mengeyam pendidikan di Lipia selama 3 tahun, sebelum akhirnya kuliah di IAI Al Aqidah pimpinan almarhum KH Irfan Zidni. Namun sambil sekolah, ayah dari Abdul Jabbar, Abdul Hakim, Abdul Aziz, dan Hilyah 'Afifah ini terus mengasah kemampuan dakwahnya. Ia pun semakin aktif berkeliling untuk menggelar pengajian. Sejak saat itulah ia pun mantap di jalan dakwah. uli
|